TIDORE — Dalam rangka mendukung program Ramadan Nyaman Bersama, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Maluku Utara menyalurkan bantuan kepada keluarga berisiko stunting di Kota Tidore Kepulauan, Rabu (4/3/2026).
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku Utara, Victor Palimbong berupa beras, telur, dan susu. Bantuan ini merupakan bagian dari program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) yang digagas oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji.
Program ini bertujuan membantu keluarga yang memiliki risiko stunting sekaligus memperkuat upaya percepatan penurunan angka stunting di daerah, khususnya di Provinsi Maluku Utara.
Dalam keterangannya kepada wartawan, dr. Victor Palimbong menjelaskan bahwa program GENTING merupakan gerakan kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan masyarakat.
Menurutnya, pendekatan yang digunakan dalam program tersebut menekankan semangat gotong royong antar berbagai elemen untuk bersama-sama mencegah dan menurunkan angka stunting di Indonesia.
“Kemendukbangga/BKKBN mempunyai program GENTING di mana kita menggerakkan teman-teman lintas sektor, termasuk swasta, dengan semangat gotong royong untuk berkolaborasi dalam mencegah stunting,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sumber daya dalam program ini tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah, melainkan juga dukungan dari berbagai pihak di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Semangatnya adalah gotong royong, karena sumber dayanya berasal dari non-APBN dan non-APBD dalam upaya menuntaskan persoalan penurunan stunting,” tambahnya.
Pria kelahiran Kepulauan Sula itu juga menjelaskan bahwa BKKBN memiliki data yang akurat terkait keluarga berisiko stunting melalui sistem pendataan yang dilakukan secara detail.
Menurutnya, data yang dimiliki BKKBN merupakan data KRS (Keluarga Risiko Stunting) yang bersifat by name by address, sehingga memudahkan pemerintah dalam melakukan intervensi secara tepat sasaran.
“BKKBN memiliki data KRS, dan data itu adalah data by name by address. Artinya data kita merupakan data surveilans yang bisa digunakan untuk menentukan intervensi yang tepat,” jelas Victor.
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan kecukupan makanan atau gizi semata. Faktor lingkungan dan kondisi sosial juga memiliki pengaruh besar terhadap terjadinya stunting pada anak.
Ia bahkan menyebut sekitar 70 persen penyebab stunting berasal dari faktor sensitif seperti kondisi lingkungan, sanitasi, pola hidup, serta akses terhadap layanan kesehatan.
Hal tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat yang juga menaruh perhatian pada perbaikan lingkungan sebagai bagian dari strategi pembangunan kesehatan masyarakat.
“Stunting bukan hanya soal makanan. Ini juga selaras dengan program Presiden Prabowo Subianto, yakni Indonesia Asri, di mana sekitar 70 persen penyebab stunting berasal dari faktor lingkungan atau faktor sensitif,” jelasnya.
Melalui kegiatan penyaluran bantuan tersebut, BKKBN Maluku Utara berharap keluarga yang berisiko stunting dapat memperoleh dukungan pemenuhan gizi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan keluarga.
Pemerintah juga terus mendorong keterlibatan berbagai pihak untuk bersama-sama mempercepat penurunan angka stunting, sehingga generasi masa depan dapat tumbuh sehat, kuat, dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih baik. (**)

