HALTENG – PT Smart Marsindo membuktikan bahwa penerapan Good Mining Practice (GMP) dapat berjalan seiring dengan penguatan aspek sosial dan lingkungan. Sebagai perusahaan tambang nikel berstatus Clean and Clear (CnC),
PT Smart Marsindo mengintegrasikan pemulihan lingkungan pascatambang dengan pemberdayaan ekonomi serta peningkatan kualitas pendidikan masyarakat Pulau Gebe, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Salah satu program unggulan perusahaan adalah reklamasi pascatambang berbasis ekonomi sirkular yang melibatkan langsung masyarakat lokal. Hingga saat ini, lebih dari 4.000 pohon telah ditanam di area reklamasi, terdiri dari jenis Cemara Laut, Mahoni, Casuarina, hingga Bintangor.
Menariknya, proses pembibitan dilakukan secara mandiri oleh warga setempat melalui skema insentif. Perusahaan memberikan upah sebesar Rp3.000 untuk setiap polybag bibit yang disemai masyarakat.
“Kami ingin masyarakat merasa memiliki kembali alam mereka, sekaligus memperoleh manfaat ekonomi secara langsung,” ujar Direktur PT Smart Marsindo, Jilly R. Lumankum, Selasa (13/1/2026).
Di bidang pendidikan, PT Smart Marsindo juga melakukan investasi nyata untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah lingkar tambang. Upaya tersebut meliputi pembangunan gedung SMAN 3 Pulau Gebe, penyediaan armada bus sekolah untuk mendukung mobilitas siswa dari desa-desa terpencil, serta hibah 20 unit laptop guna memperkuat literasi dan kompetensi digital siswa.
Selain itu, perusahaan turut berkontribusi dalam memutus isolasi geografis Pulau Gebe dengan memberikan bantuan sarana transportasi bagi kebutuhan kesehatan dan operasional masyarakat. Bantuan tersebut berupa satu unit ambulans untuk layanan medis darurat dan satu unit speedboat bermesin bagi warga Umiyal di Pulau Yoi.
Capaian PT Smart Marsindo ini mendapat apresiasi dari Koordinator Pemerhati Kelola Sumber Daya Alam (PKSDA), Hamdan Halil. Ia menilai model integrasi antara kepatuhan regulasi dan kepedulian sosial yang diterapkan perusahaan layak menjadi rujukan nasional dalam pengelolaan sumber daya alam.
“Perusahaan ini mampu memadukan disiplin regulasi dengan empati sosial. Model pembangunan sekolah hingga insentif reklamasi yang melibatkan masyarakat patut menjadi benchmark nasional,” tegas Hamdan.
Sementara itu, Jilly R. Lumankum menegaskan bahwa filosofi perusahaan tidak sekadar berorientasi pada pengambilan sumber daya alam, tetapi juga pada upaya meninggalkan warisan positif bagi generasi mendatang.
“Ini adalah cara kami menjaga marwah perusahaan sekaligus menjalankan amanah masyarakat,” pungkasnya. (**)

