Kelembutan sering kali dikaitkan dengan kebaikan sebagaimana juga dalam pengertiannya lawan dari sikap tegas atau ketegasan.
Sebagai pembagian dari dua dalam sikap hidup, fleksibilitas keduanya berdinamika dan memberi gambaran tentang penempatan suatu sikap.
Tidak mengidentikkan kelembutan sebagai sepenuhnya baik begitu pun sebaliknya, sikap tegas juga membawa manfaat dan kejelasan serta dinamika dan memaknai keduanya merupakan suatu bentuk kebijaksanaan.
Tidak jarang, ketegasan diartikan sebagai kekerasan (seperti dalam bentuk verbal), namun juga ada kelembutan sikap justru dirasa menipu. Berharap kebaikan dari Allah yang hanya dariNyalah didapat, maka keutamaan sikap berdasar, atau cara yang dipadukan oleh Dia yang Maha Lembut juga sekaligus keras siksaNya merupakan keniscayaan untuk diusahakan.
Akhlak! Suatu gambaran tentang sikap yang baik, mulia serta membawa keberkahan dengan izinNya. Jika dalam kajian ilmu keislaman, termasuk Studi Akhlak Tasawwuf, yang menekankan pengertian sikap yang baik tersebut.
Melalui tahapan-tahapan yang populer disebut penyucian jiwa (“tazkiah an-nafs”), secara teoritis membawa pencerahan dalam memahami kebaikan sikap. Secara konseptual bahkan dapat dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lantaran akhlak sejatinya adalah satu kesatuan, artinya bukan hanya perbuatan Zahir, namun juga jiwa yang jauh dari sifat-sifat tercela, maka ilmu tentangnya selain menuntut untuk senantiasa diperdalam namun juga ditetapkan dalam kehidupan sebagai manusia di bumi Allah.
Terdapat suatu makna dari ungkapan populer, bahwa beramal tanpa jiwa yang hadir adalah fasik, sedang (merasa) berjiwa tanpa beramal adalah zindiq yang kedua-duanya adalah tercela dan harus dihindari karena bisa-bisa, dapat mengantarkan seseorang kepada kondisi kekafiran.
Maka jelas, sikap kebaikan yang jauh dari jiwa yang terjaga (seperti dari sifat tercela) adalah kekeliruan, juga merasa jiwa bersih dengan tetap melakukan perbuatan terlarang atau tidak melakukan perintah Tuhan adalah suatu keburukan.
Maka jika terdapat kebaikan di sana, sungguh, itu hanya sekedar tipuan atau pengecohan dari kebenaran yang sesungguhnya.
Berkaca pada peringatan Allah di akhirat kelak terhadap akibat dari tipuan setan, yang pengikutnya akan saling menyalahkan dan setan hanya “angkat tangan” serta mengaku takut juga kepada Tuhannya, maka menghindari sebisa daya terlebih dari pada menjadi pengikut setianya di dunia yang sesungguhnya akan membawa kesengsaraan tanpa kesudahan.
Memakmnai kelembutan dan ketegasan sebagai sikap yang membawa makna dan sejatinya sebagai penerang menujuNya, bukan kebaikan (tanda petik) sementara yang sejatinya menipu atau mengecoh kebenaran yang sesungguhnya, “Allahu a’lam!”
Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera

